Cegah Konflik Sosial, Kemenag Kota Ternate Laksanakan Kegiatan Early Warning System

TERPOPULER

BACA JUGA

Ternate,- Kantor Kementerian Agama Kota Ternate melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menyelenggarakan kegiatan Percepatan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan sesuai dengan Edaran Sekjen Kemenag Nomor 22 Tahun 2024. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (24/09/2025) di Aula Nurhasanah Kantor Kemenag Kota Ternate.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIT ini diikuti oleh para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), Penghulu, serta Penyuluh Agama Islam baik PNS dan non-PNS maupun PPPK yang bertugas di KUA Kecamatan se-Kota Ternate sebanyak 26 orang peserta. Kegiatan ini bertujuan menjadikan Penghulu dan Penyuluh Agama Islam dapat melaksanakan tugasnya dalam memberikan penerangan dan pencerahan kepada masyarakat binaannya terkait dengan mengembangkan Early Warning System, juga menjadikan para Penghulu dan Penyuluh Agama Islam berperilaku disiplin dalam melaksanakan etos kerja dan tugas-tugasnya sesuai dengan program kerja Penyuluh Agama Islam. Serta, menjadikan Penghulu dan Penyuluh Agama Islam yang memiliki strategi untuk mengajak dan membimbing masyarakat agar dapat hidup rukun bertoleransi dalam bersikap menghargai perbedaan keyakinan.

Kepala Kantor Kemenag Kota Ternate, H. Salmin Abd. Kadir, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Seksi Bimas Islam atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya penyuluh menjadi mata dan telinga bagi masyarakat terutama dalam menjaga kerukunan.
“Sistem peringatan dini menjadi instrumen penting dalam mencegah potensi konflik sosial bernuansa keagamaan sejak dini. Peran Kepala KUA, penghulu, dan penyuluh sebagai mata dan telinga masyarakat sangat dibutuhkan terutama dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di masyarakat”, ujarnya.

Kasi Bimas Islam, H. Lukman Hatari dalam arahannya, ia berharap seluruh peserta dapat mengoptimalkan pemahaman materi yang disampaikan.
“Saya harapkan Penyuluh Agama dan Para KUA sebagai garda terdepan untuk senantiasa memahami benar terkait dengan Early Warning System yang disampaikan oleh pemateri hari ini karena menyangkut dengan kinerja mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di lapangan”, jelasnya.

Materi inti kegiatan dibawakan oleh Ketua MUI Kota Ternate, Prof. Dr. Jubair Situmorang, S.Ag., M.Ag. Beliau memaparkan strategi penerapan EWS dengan cara mendeteksi, memantau, dan memberikan informasi, mulai dari pemetaan potensi konflik, teknik deteksi dini, hingga rekomendasi mengenai penerapan EWS di masyarakat. Prof. Jubair menjelaskan tujuan utama EWS yang di antaranya adalah mengurangi korban jiwa, mengurangi kerusakan, serta meningkatkan ketahanan masyarakat. Beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh pemateri di antaranya adalah :
1. Membangun sistem koordinasi terpadu antar lembaga.
2. Penguatan forum dialog inter dan antar agama yg berkelanjutan.
3. Penguatan kebijakan afirmatif dan inklusif.
4. Membentuk tim pencegahan konflik sosial berdimensi agama di semua tingkat KUA di kota Ternate.
5. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tentang keterampilan EWS bagi penghulu dan penyuluh.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta, yang membahas pengalaman di lapangan serta upaya-upaya pencegahan konflik yang dapat diterapkan di Kota Ternate. Prof. Jubair mengajak seluruh peserta untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan meningkatkan kepedulian dan komunikasi sosial di tengah masyarakat.

ARTIKEL TERKAIT

INFOGRAFIS

Cegah Konflik Sosial, Kemenag Kota Ternate Laksanakan Kegiatan Early Warning System

Ternate,- Kantor Kementerian Agama Kota Ternate melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menyelenggarakan kegiatan Percepatan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan sesuai dengan Edaran Sekjen Kemenag Nomor 22 Tahun 2024. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (24/09/2025) di Aula Nurhasanah Kantor Kemenag Kota Ternate.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIT ini diikuti oleh para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), Penghulu, serta Penyuluh Agama Islam baik PNS dan non-PNS maupun PPPK yang bertugas di KUA Kecamatan se-Kota Ternate sebanyak 26 orang peserta. Kegiatan ini bertujuan menjadikan Penghulu dan Penyuluh Agama Islam dapat melaksanakan tugasnya dalam memberikan penerangan dan pencerahan kepada masyarakat binaannya terkait dengan mengembangkan Early Warning System, juga menjadikan para Penghulu dan Penyuluh Agama Islam berperilaku disiplin dalam melaksanakan etos kerja dan tugas-tugasnya sesuai dengan program kerja Penyuluh Agama Islam. Serta, menjadikan Penghulu dan Penyuluh Agama Islam yang memiliki strategi untuk mengajak dan membimbing masyarakat agar dapat hidup rukun bertoleransi dalam bersikap menghargai perbedaan keyakinan.

Kepala Kantor Kemenag Kota Ternate, H. Salmin Abd. Kadir, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Seksi Bimas Islam atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya penyuluh menjadi mata dan telinga bagi masyarakat terutama dalam menjaga kerukunan.
“Sistem peringatan dini menjadi instrumen penting dalam mencegah potensi konflik sosial bernuansa keagamaan sejak dini. Peran Kepala KUA, penghulu, dan penyuluh sebagai mata dan telinga masyarakat sangat dibutuhkan terutama dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di masyarakat”, ujarnya.

Kasi Bimas Islam, H. Lukman Hatari dalam arahannya, ia berharap seluruh peserta dapat mengoptimalkan pemahaman materi yang disampaikan.
“Saya harapkan Penyuluh Agama dan Para KUA sebagai garda terdepan untuk senantiasa memahami benar terkait dengan Early Warning System yang disampaikan oleh pemateri hari ini karena menyangkut dengan kinerja mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di lapangan”, jelasnya.

Materi inti kegiatan dibawakan oleh Ketua MUI Kota Ternate, Prof. Dr. Jubair Situmorang, S.Ag., M.Ag. Beliau memaparkan strategi penerapan EWS dengan cara mendeteksi, memantau, dan memberikan informasi, mulai dari pemetaan potensi konflik, teknik deteksi dini, hingga rekomendasi mengenai penerapan EWS di masyarakat. Prof. Jubair menjelaskan tujuan utama EWS yang di antaranya adalah mengurangi korban jiwa, mengurangi kerusakan, serta meningkatkan ketahanan masyarakat. Beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh pemateri di antaranya adalah :
1. Membangun sistem koordinasi terpadu antar lembaga.
2. Penguatan forum dialog inter dan antar agama yg berkelanjutan.
3. Penguatan kebijakan afirmatif dan inklusif.
4. Membentuk tim pencegahan konflik sosial berdimensi agama di semua tingkat KUA di kota Ternate.
5. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tentang keterampilan EWS bagi penghulu dan penyuluh.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta, yang membahas pengalaman di lapangan serta upaya-upaya pencegahan konflik yang dapat diterapkan di Kota Ternate. Prof. Jubair mengajak seluruh peserta untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan meningkatkan kepedulian dan komunikasi sosial di tengah masyarakat.

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkait

Baca Juga