Ternate,- Sebanyak 98 pemuda gereja mengikuti kegiatan penyuluhan dan sosialisasi Moderasi Beragama yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Kota Ternate melalui Seksi Penyelenggara Bimas Kristen di GKPMI Betlehem Kalumpang, Kamis (30/04/2026). Kegiatan ini menjadi upaya strategis dalam menanamkan nilai toleransi dan kerukunan sejak dini di kalangan generasi muda.
Selaku penyuluh Agama Kristen pada Kementerian Agama Kota Ternate, kegiatan ini dilaksanakan oleh Selfiana Bertha Hengkenang, S.Pd, Mus Baikole, dan Theodorus. Ketiganya berperan aktif dalam memberikan pembinaan serta penguatan nilai-nilai moderasi beragama kepada peserta.
Sebagai narasumber utama, Selfiana Bertha Hengkenang, S.Pd menyampaikan materi mengenai moderasi beragama dalam perspektif Kristen. Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara beragama yang adil, seimbang, dan tidak berlebihan, sehingga mampu menghindarkan umat dari sikap ekstrem yang berpotensi memicu konflik.
Lebih lanjut, Selfiana juga memaparkan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dengan ratusan suku, bahasa, dan latar belakang budaya, menjadikan moderasi beragama sebagai sebuah keniscayaan dalam menjaga keutuhan bangsa. Dalam konteks tersebut, kerukunan umat beragama harus dibangun di atas nilai toleransi, saling menghormati, serta kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga mengingatkan berbagai tantangan yang dapat mengganggu kerukunan, seperti intoleransi, radikalisme, fanatisme berlebihan, hingga penyebaran hoaks yang kerap muncul akibat minimnya pemahaman keagamaan dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, peran generasi muda dinilai sangat penting sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat.
Dalam perspektif Kristen, Selfiana menegaskan bahwa moderasi beragama berakar pada ajaran kasih, sebagaimana tertulis dalam Alkitab untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang. Ia menekankan bahwa umat Kristen dipanggil untuk hidup dalam damai dengan semua orang serta menjadi teladan dalam membangun hubungan yang harmonis.
Dalam pemaparannya, Selfiana juga mengajak kaum muda gereja untuk tidak hanya memahami konsep moderasi beragama, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat yang majemuk.
“Moderasi beragama bukan hanya sekadar konsep, tetapi harus menjadi gaya hidup. Sebagai generasi muda Kristen, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, menjunjung tinggi kasih, serta aktif menjaga kerukunan di tengah perbedaan,” ujar Selfiana.
Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta mampu menjadi agen moderasi beragama yang dapat menebarkan nilai-nilai toleransi dan persaudaraan di lingkungan masing-masing.
Dengan adanya penyuluhan ini, Kementerian Agama terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat harmoni kehidupan beragama melalui peran strategis para penyuluh agama di tengah masyarakat.


